Logo

Islamic Calendar Widgets by Alhabib

FORUM - Kompilasi Tanya Jawab

Kedudukan Suami terhadap Istri dan Orang Tua

Selasa, 21 Februari 2012 , 13:21:46
Oleh : Feby ummu maryam

Pertanyaan:
Mau tanya bagaimana hukumnya kedudukan suami thd istrinya dibandingkan thd orang tua. Mohon klau ada disertakan juga dalilnya.

Jawaban:
Ukhti, seorang anak dituntut agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya, berdasarkan firman Alloh subhanahu wa ta’ala (yang artinya):

….Dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.” [QS.al Isro’ : 23]

‎​Alloh subhanahu wa ta’ala mewajibkan kita agar berbuat baik kepada orang tua karena mereka berdua adalah orang yang pertama kali banyak berbuat baik kepada kita dan sebagai penyebab lahirnya kita di dunia. Berbuat baik kepada kedua orang tua beraneka ragam bentuknya, bisa dengan membantu kebutuhan mereka berdua, terutama saat usia lanjut, terlebih lagi bila mereka tergolong orang yang sangat miskin. Dalam hal ini, tentu anaklah yang lebih tau kebutuhan orang tuanya. Sebab selain kepada Alloh, kepada siapa lagi orang tua mengharapkan bantuan bila tidak kepada anaknya?!

Adapun istri, ia tidak boleh menuntut haknya yang berupa harta kepada suami, kecuali yang berhubungan dengan kebutuhan diri dan anak-anaknya sehari-hari. Perhatikanlah firman Alloh subhanahu wa ta’ala berikut ini (yang artinya):

“Hendaklah orang yang mampu, ia memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan rezekinya, hendaklah memberi nafkah dari harta yang Alloh berikan kepadanya. Alloh tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan (sekadar) apa yang Alloh berikan kepadanya. Alloh kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.” [QS.ath Tholaq: 7]

Jika suami Ukhti mengatakan bahwa ia tidak wajib menafkahi mertua, itu memang benar. Sebab mertua memang bukan menjadi tanggungannya. Suami baru dituntut harus adil bila bila memberi sesuatu kepada sesama istrinya. Ataupun posisinya sebagai seorang ayah, harus adil bila memberi sesuatu kepada anak-anaknya.

Akan tetapi hubungan sesame anggota keluarga, pasti memiliki keterikatan yang saling memerlukan. Baik yang bersifat material, moril atau kebutuhan lainnya. Semua ikatan ini akan dapat menguatkan rasa saling menghargai, menghormati, dan sangat mungkin mempererat tali persaudaraan.Islam adalah agama yang menjunjung tinggi moral, dan untuk perbaikan akhlak manusia. Baik akhlak kepada Rabbul-'Alamin, sesama manusia, dan juga kepada orang tua. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah memerintahkan kita agar berbuat ihsân kepada sesama dalam firman-Nya:

 (#‫وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ‬

"Dan berbuat baiklah (ihsân) kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…" [an-Nisâ`/4:36]. 

Apa yang dimaksud berbuat ihsaan kepada sesama? Syaikh al-Jazaairi dalam tafsirnya (1/224) menjelaskan, yaitu badzlul ma'ruf wa kafful adzâ` (menyampaikan kebaikan dan menyingkirkan keburukan).

‎​Tentu, konsep yang terkandung dalam dua tindakan tersebut memiliki arti sangat luas.Secara khusus, Allah Subhanahu wa Ta'ala juga memerintahkan untuk bertutur kata baik kepada sesama: 

"…Dan ucapkanlah kata-kata baik kepada manusia…" [al-Baqarah/2:83]. 

Sebagian ulama tafsir menyatakan, kandungan ayat di atas berlaku umum, kepada orang kafir sekalipun. Orang kafir –dengan syarat-syarat tertentu- juga berhak diperlakukan secara ihsân oleh seorang muslim.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
: ‫وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ‬

"Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang baik". [HR at-Tirmidzi]. 

Bercermin pada permasalahan di atas, maka kewajiban seorang muslim untuk berbuat baik menjadi bertambah ketika ia masuk ke dalam keluarga besar orang lain melalui akad pernikahan.

Sebuah keluarga yang sebelumnya tidak memiliki hubungan apapun, begitu terjadi akad pernikahan, maka ia menjadi bagian tak terpisahkan dengan kehidupannya. Sehingga menumbuhkan konsekwensi adanya kewajiban yang sebelumnya tidak mengikatnya, karena telah menjadi bagian darinya.Disinilah, sebagai anggota baru dalam suatu keluarga besar, kita memiliki keterikatan berinteraksi dan akan saling membutuhkan. Karena salah satu tujuan dari pernikahan ialah untuk menjali kekerabatan dengan keluarga lain. Dari hubungan ini maka tak pelak, tuntutan untuk saling membantu mutlak diperlukan dalam batas-batas yang diperbolehkan syariat, tak terkecuali dengan mertua.

‎​Oleh karena itu, semestinya setiap muslim memahami anjuran Islam ini secara menyeluruh. Ada hak yang harus ditunaikan bagi sesama muslim. Termasuk kepada mertua, yang tentu menjadi kerabat kita. Dan kerabat memiliki hak yang semestinya lebih diutamakan. Sehingga jika seorang menantu merasa enggan membantu mertua, hendaklah ia menyadari ketimpangannya dalam memahami syari'at Islam yang mengajarkan kebaikan kepada sesama dan kaum kerabat. Bahkan jika menelusuri peran mertua, sebagai orang tua pasti memiliki jasa yang tidak sedikit.

Kalaupun menantu seakan mendapat beban karena diminta untuk membantunya, maka pertolongan yang diberikan menantu tersebut masuk dalam perbuatan yang baik.

Kebahagiaan istri merupakan kebahagiaan suami juga. demikian juga sebaliknya sebab istri adalah pakaian suami, sebagaimana dijelaskan Allah dalam firman-Nya

.‫هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ‬

"Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka" [al Baqarah/2 : 187]

Semestinya sang suami menghormati mertuanya sebagaimana menghormati orang tuanya sendiri walaupun kedudukannya tentu dibawah orang tua sendiri. Namun, tidak boleh meremehkan dengan menyatakan tidak ada kewajiban taat kepada mertua. Ingatlah, istri dapat akan berbahagi bila orang tuanya dihormati dan dihargai serta ditempatka pada posisinya yang benar.Kebahagian istri ak memiliki dampak sangat positif dalam membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmat. Demikian juga hubungan kepada orang tua jangan sampai melalaikan tugas dan kewajiban terhadap keluarga.

Menghadapi sikap suami yang demikian, kewajiban Ukhti sebagai istri tetaplah bersabar. Berilah ia pengertian secara baik-baik dan jangan bosan untuk tetap memberi nasihat. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi hidayah, rahmat dan inayah-Nya kepada setiap rumah tangga kaum muslimin. Hingga tiap-tiap rumah sarat dengan cahaya hidayah, yang tidak hanya akan dirasakan oleh keluarga bersangkutan, tetapi juga dinikmati oleh masyarakat sekitar. Wallahu a'lam.

POLLING HARI INI

Menurut anda, bagaimana design baru salamdakwah ini?