Logo

Islamic Calendar Widgets by Alhabib

FORUM - Kompilasi Tanya Jawab

Surat yang Dibaca ketika Shalat Dhuha

Kamis, 20 September 2012 , 06:58:48
Oleh : Feby ummu maryam

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Ustadz
Bagaimana Derajat Hadist ini:
Menurut Ibnu Abidin yang sebaiknya dibaca pada shalat dhuha adalah surat Asy-Syam pada
rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua.

Hal ini berdasarkan riwayat dari Uqban bin Amir, “Kami diperintahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk shalat dhuha dengan membaca sejumlah surat. Di antaranya Asy-Syams dan Adh- Dhuha.”

Sementara dalam Nihayatul Muhtaj disebutkan
bahwa yang lebih utama membaca surat Al-
Kafirun dan Al-Ikhlas karena surat Al-Ikhlas setara dengan sepertiga Alquran dan Al-Kafirun setara dengan seperempat Alquran.
Ana kutip dari :
1. http://
anggrafansclub.wordpress.com/2012/01/23/
apakah-ada-bacaan-surat-khusus-dalam-shalat-
dhuha/
2. http://www.syariahonline.com/v2/shalat/2479-surat-yang-dibaca-dalam-shalat-dhuha.html

Dari: Muhammad Nawir

Jawaban:
Wa’alaikumussalam

Alhamdulillah was shalatu was salamu ‘ala
Rasulillah…

Bacaan Sholat Dhuha
Terdapat sebuah hadis yang menganjurkan untuk membaca surat As Syams pada rakaat pertama dan membaca surat Ad dhuha pada rakaat kedua.

Hadis tersebut berbunyi:
ﺻﻠﻮﺍ ﺭﻛﻌﺘﻲ ﺍﻟﻀﺤﻰ ﺑﺴﻮﺭﺗﻴﻬﺎ :
)ﻭﺍﻟﺸﻤﺲ ﻭﺿﺤﺎﻫﺎ( ، ﻭ )ﺍﻟﻀﺤﻰ.(
“Shalatlah dua rakaat dhuha dengan membaca
dua surat dhuha, yaitu surat Was syamsi
wadhuhaa haa dan surat Adh dhuha.”
Dalam riwayat yang lain terdapat tambahan:
“Barangsiapa yang mengamalkannya maka dia
diampuni.”

Hadis di atas diriwayatkan oleh Ar Ruyani dalam
Musnad-nya dan Ad Dailami (2:242) dari jalur
Musyaji’ bin ‘Amr. Hadis ini juga disebutkan oleh
Al Hafidz Ibn Hajar dalam Fathul Bari Syarh
Shahih Bukhari dan tidak dikomentari. Beliau
hanya menyatakan bahwa bacaan surat tersebut ada kesesuaian bacaan dengan shalat yang dikerjakan. Namun yang benar, hadis di atas adalah hadis palsu.

Sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Al Albani, beliau mengatakan: “Hadis ini palsu, cacatnya ada pada Musyaji’ bin Amr. Ibn Ma’in berkomentar tentang Musyaji’: “yang saya
tahu dia (musyaji’) adalah seorang pendusta.” (Silsilah Hadis Dhaif dan Palsu, hadis
ke-3774).

Hadis ini juga didhaifkan oleh Al Munawi dalam
Faidlul Qodir dengan alasan adanya perawi yang
bernama Musyaji’ bin Amr. Imam Ad Dzahabi
dalam Ad Dlu’afa’ mengatakan dengan menukil
perkataan Ibn Hibban: “Dia memalsukan hadis
dari Ibn Lahi’ah dan dia adalah dhaif.” (Faidlul
Qodir, 4:201).

Dari dua penjelasan ini, dapat diambil kesimpulan dengan yakin bahwa hadis yang menganjurkan Shalat dhuha dengan bacaan tertentu adalah hadis dhaif. Artinya tidak ada anjuran untuk mengkhususkan shalat dhuha dengan bacaan tertentu, baik di rakaat pertama, rakaat kedua, maupun doa setelah shalat dhuha.

Dalam masalah ini, terdapat satu kaidah terkait
masalah ibadah yang penting untuk diketahui:
“Membatasi setiap ibadah yang sifatnya mutlak
dengan tata cara tertentu –misalnya waktu,
tempat, bacaan, jumlah, dan yang lainnya- tanpa ada keterangan dalil yang shahih termasuk salah satu bentuk bid’ah.” (Qowa’id Ma’rifatil Bida’, Hal. 52)

Karena hadis yang dijadikan dalil untuk
menetapan dua surat di atas adalah hadis palsu
maka tidak selayaknya dijadikan pegangan untuk mengkhususkan bacaan tertentu dalam shalat dhuha. Karena hadis palsu bukanlah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sementara mengkhususkan bacaan tertentu untuk ibadah yang sifatnya umum (tidak ditentukan bacaannya) padahal tidak ada dasarnya, termasuk salah satu perbuatan bid’ah.

Wallahu a’lam.

As Syaikh Ibn Baz rahimahullah pernah ditanya
tentang bacaan surat As Syamsi dan Ad dhuha
ketika shalat dhuha. Beliau menjawab:
“Adapun yang sesuai sunah, engkau membaca
surat yang mudah menurutmu setelah membaca Al Fatihah. Dalam bacaan tersebut tidak ada batasan tertentu, karena yang wajib hanya Al Fatihah sedangkan tambahannya adalah sunah.

Maka jika setelah Al Fatihah engkau membaca
surat As Syamsi, Al Lail, Ad dhuha, Al Insyirah,
dan surat-surat yang lainnya, ini adalah satu hal
yang baik.” (Majmu’ Fatawa dan Maqalat Ibn
Bazz, 11).

Sumber Ustadz Ammi Nur Biats (Dewan
Pembina Konsultasi Syariah)

POLLING HARI INI

Menurut anda, bagaimana design baru salamdakwah ini?