TANYA USTADZ

melaknat dan mengutuk

Rabu, 21 Maret 2012 , 22:13:30
Penanya : Ikhwan

Ana pernah membaca/mendengar perkataan semisal:

"semoga laknat Allah atas orang yg melaknat para sahabat rodhiallohuanhum"

"pemerintah mengutuk pembomam fasilitas umum dan menewaskan masyarakat tdk berdosa"

"semoga laknat Allah utk para pelaku pembunuhan biadab atas orang2 yg tdk berdosa"

Apakah hukum melaknat atau mengutuk pihak yg pantas utk dilaknat/kutuk? Apakah perbuatan demikian hanyak hak Allah semata?

Jazakalloh khair atas penjelasannya.

Jawab :

Berikut ini beberapa kaidah yang disarikan dari kitab Ahkamu La’nil Kafirin wa Ushotil Muslimin dirosatan Aqadiyatan oleh professor doctor Sulaiman bin Shaleh bin Abdul Aziz Al-Ghusn
Laknat bisa bermakna berita tentang masa depan orang yang terlaknat, artinya dia akan dijauhkan dari rahmat Allah ta’ala
Dan bisa juga bermakna do’a supaya orang yang dilaknat dijauhkan dari rahmat Allah ta’ala.
Berikut ini kaidah-kaidah yang dikuatkan oleh penulis kitab
Pertama: melaknat orang kafir secara umum
1. Kalau orang yang melaknat orang kafir secara umum bermaksud untuk memberi berita maka ini tidak apa karena sesuai dengan ayat Qur’an atau hadits yang menerangkan laknat(berita) Allah ta’ala dan Rasul-Nya terhadap orang kafir.
2. Akan tetapi kalau laknat itu ditujukan langsung ke kelompok kafir tertentu maka itu tidak boleh karena masa depan hanya Allah ta’ala yg tahu
Kalau laknat tersebut dimaksudkan untuk mendoakan orang kafir secara umum supaya jauh dari rahmat Allah ta’ala maka ada perinciannya: jika yang didoakan dengan laknat tersebut telah mati maka itu tidak apa-apa
Jika masih hidup maka tidak boleh kecuali untuk menghindari kejelekan mereka

Kedua: Melaknat salah satu orang kafir secara langsung (person tertentu):
1. jika telah ada nash yang menerangkan bahwa person tersebut terlaknat atau dia akan mati dalam keadaan kafir maka boleh kita melaknatnya, seperti Iblis dan Fir’aun.
2. kalau tidak yakin apakah person tersebut telah mati dalam keadaan kafir maka dia tidak boleh dilaknat secara mutlaq, akan tetapi harus ada keterangannya, jadi kita katakan: semoga Allah melaknatnya jika dia meninggal dalam keadaan kafir.
3. kalau orang kafir itu masih hidup maka tidak boleh melaknatnya (baik itu dimaksudkan memberi kabar atau mendoakan) karena orang yang melaknat orang kafir yang masih hidup seakan tahu masa depan orang kafir tersebut yang jauh dari RahmatAllah ta’ala.siapa tahu Allah ta’ala memberinya hidayah dan merahmatinya pada masa yang akan datang,

Ketiga: Melaknat ahli maksiat dari kalangan kaum muslimin
Melaknat ahli maksiat berdasarkan sifatnya bukan orangnya secara langsung itu boleh, misalnya semoga Allah melaknat orang yang memakan riba, dengan ketentuan melaknat pelaku dosa tertentu sebagaimana yang ditetapkan dalam nash dan tidak melaknat pelaku dosa yang lainnya yang belum ada nash yang melaknat perbuatan dosa tersebut.
Adapun melaknat pelaku dosa secara langsung (person tertentu) maka pendapat yang kuat adalah itu tidak dilakukan.
Dan sebagai catatan penting, suka melaknat bukanlah sifat seorang mu’min jadi perbuatan itu hendaknya dijauhi. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
"ليس المؤمن بالطعان ولا اللعان ولا الفاحش ولا البذيء".أخرجه الترمذي رقم 1977.صححه الألباني
“Seorang mukmin bukanlah orang yang sukamencela, melaknat, berperangai buruk, dan mengucapkan ucapan yang kotor.”
Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan pendapat dan dalil-dalil masalah ini silahkan ruju’ ke kitab aslinya

wallahu a'lam

Oleh : Redaksi Salam Dakwah
Sudah dibaca oleh 730 orang